Berita Utama

Sejarah Desa

Halaman Sejarah Desa

 

Sejarah Desa Karangmangu Baturraden

 

Berbicara tentang sejarah nama Desa Karangmangu tentu saja tidak dapat terlepas dari nama besar Kawasan Lokawisata Baturraden. Ada beberapa versi tentang sejarah nama Desa Karanngmangu salah satunya adalah menurut penulisan dari M. Kodesri yang disunting oleh Akhmad Tohari dalam bukunya yang berjudul BANYUMAS WISATA DAN BUDAYA adalah sebagai berikut.

 

Dahulu kala, konon disebelah selatan Gunung Slamet ada suatu tempat bernama Kutaliman tempat itu sudah banyak penduduknya. Disana berdiam seorang Adipati beserta Abdi Dalemnya, orang biasa menyebutnya Adipati Kutaliman. Adipati itu memiliki seorang istri dan beberapa orang putra dan putri diantaranya ada seorang anak gadis yang sudah masanya berumah tangga. Putri Adipati Kutaliman memang berparas cantik sehingga banyak yang berminat melamarnya. Salah satu kewajiban orang tua adalah menikahkan putrinya yang sudah masanya berumah tangga. Karena itu dengan kebijaksanaan Sang Adipati menanyakan kepada putrinya untuk memilih jodohnya.

 

Tentunya menjadi kurang baik apabila terlalu lama menjadi buah bibir dikalangan masyarakat Sang Adipati pun bingung karena setiap ditanya sang putri terus diam. Melihat hal demikian para Abdi Dalempun merasa ikut bingung akhirnya diketahui bahwa putrinya telah menjalani hubungan cinta dengan salah seorang Abdinya yang bertugas sebagai Gamel. Yaitu pemelihara kuda. Rupanya keduanya sudah saling mengikat janji. Sang Adipati dengan bijaksana menasehati putrinya juga dengan bujukan dan rayuan, namun keduanya sudah sulit dipisahkan. Semua orang tahu bahwa sang putri adalah keturunan bangsawan. Sadangkan si Gamel adalah seorang pembantu. Hal ini menjadi aib bagi keluarga adipati kutaliman, karena itu tidak ada jalan lain kecuali keduanya harus diusir dari istana kadipaten.

 

Demikian keputusan sang adipati yng telah marah karena kebesaran namanya telah dinodai oleh putrinya. Sang putripun dengan sedih meninggalkan istana bersama pembantunya dan pergi tanpa memiliki tujuan, keduanya pergi akearah utara. Semakin keutara jalan semakin menanjak, kadang-kadang menyebrang kali yang berkelok. Karena lelah merangkak-rangkak (Orang Jawa menyebutnya nglangsur) dikemudian kali yang dilalui keduanya disebut Kali Kesur. Pada saat sekarang kali kesur adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kedung Banteng.

 

Setelah lama pergi mereka mencari tempat utnuk tinggal sementara. Sang putri melahirkan seorang putra didekat sebuah kali. Maka kelak dikemudian hari disebut Kali Putra. Tepatnya untuk saat ini berada di wilayah Kecamatan Kedung Banteng. Dengan perasaan sedih keduanya pergi membawa anaknya untuk berpindah mencari tempat yang layak. Sang Batur mennggendong anaknya. Sampailah mereka dilereng Gunung Slamet lalu berhenti dan bercocok tana. Mereka cukup lama tinggal didaerah itu sampai putranya menginjak dewasa. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh anaknya untuk mengetahui tentang dirinya. Ayahnya bercerita bahwa dia hanya seorang Batur sedang ibunya adalah seorang Raden dan anak itu adalah keturunan Batur dan Raden. Kelak dikemudian hari. Nama tempat tersebut menjadi Baturraden.

 

Suatu hari anak yang serba ingin tahu itu berjalan kearahselatan sampailah pada sebuah tebing yang dalam dan duduk termangu-mangu, hinnga kelak kemudian hari tempat tersebut dikenal dengan nama Jurangmangu, yang merupakan bagian wilayah dari Desa Karangmangu,. Anak itu lama termangu ditepi jurang sehingga ia lupa pulang dan berhentilah ia suatu tempat atau dataran karena lelah dan kelak dikemudian hari daerah tersebut menjadi Karangmangu. Yang berasal dari kata termangu-mangu.